About Chelsea

About Chelsea
(Kelara Olivia)
Penulis adalah siswa kelas 9 SMP Negeri 3 Subah
Seorang gadis sedang menangis di kamar minimalis miliknya, dia menangis karena kasihan kepada dirinya sendiri, gadis itu menatap langit-langit kamarnya. Sudah menjadi hal yang biasa bagi seorang gadis yang bernama Chelsea jika ia menangis di tengah malam begini. Chelsea beralih menatap cermin yang ada di depan nya itu dengan hati yang bertanya-tanya, "Apakah aku seburuk itu untuk bahagia? hufftt di zaman sekarang dunia hanya milik si CANTIK, jika kamu cantik kamu akan aman" Batin Chelsea. Bukannya tidak bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan kepada nya tapi Chelsea sangatlah iri kepada wanita-wanita yang ada di sekitarnya, contohnya adalah saudari perempuan, yakni Cantika. Namun tidak dengan Chelsea, Chelsea sering dipermalukan di depan rekan-rekan ibu dan ayahnya karena fisik nya dan juga otak Chelsea yang bisa di bilang tidak pintar, Chelsea juga tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. " Bisa ngga sih kamu contoh kakak kamu itu? Dia pintar, berprestasi, cantik lagi ngga kaya kamu, kamu itu cuma pembawa sial di keluarga ini,” Chelsea menuruni tangga dengan baju seragam SMA yang ia kenakan dan tas ransel berukuran sedang bewarna kuning yang selalu ia pakai ke sekolah. Ketika sudah sampai di lantai bawah, Chelsea melihat Ibu, Ayah, dan saudari perempuan nya yakni Cantika sedang sarapan sambil mengobrol dan tertawa riang, ingin rasanya Chelsea bergabung dengan mereka namun Chelsea sadar jika dia ikut bergabung. **
Chelsea melewati koridor sekolah, menyapa dan tersenyum kepada siswa yang berpapasan dengannya. Mungkin kalian akan mengira Chelsea adalah gadis yang
pendiam di sekolahnya namun kenyataan tidak, Chelsea adalah gadis yang sangat ceria, dan ramah. Tidak sedikit siswa yang senang berteman dengannya namun ada juga para siswa yang tidak menyukainya. Chelsea sudah sampai di depan kelasnya, sebelum dia masuk ke dalam kelas, Tiba-tiba saja tas nya ditarik oleh seseorang dan membuat nya mundur beberapa langkah. "Heh, Gendut!" Ucap Shella, orang yang menarik tasnya. Shella bersama dua orang teman Annabelle dan Kezia. Mereka memang tidak pernah menyukai Chelsea, apalagi Chelsea dirumorkan menyukai ketua OSIS di sekolah. Nathan Pradipta biasa orang memanggilnya Nathan, ketua OSIS yang sangat berkarisma, tampan, berhati dingin, dan galak pastinya. Mungkin karena Shella tidak terima jika Chelsea menyukai Nathan jadi Shella tidak menyukai Chelsea. "Kenapa lagi ni orang " Jawab Chelsea sambil memutar malas bola matanya. "Wahh, udah berani ya sama kita? " Lanjut Kezia ingin menjambak rambut Chelsea namun ditahan oleh seseorang. " Heh! Kalian bisa berhenti gangguin Chelsea ngga? Lagian ya, Chelsea tuh bukan gendut tapi berisi ngga kaya kalian, KURUS" Ucap orang itu, tidak lain dan tidak bukan orang itu adalah Vanessa, sahabat Chelsea. "Ayok Chel kita masuk jangan ladenin para cabean ini, Byee centilll" Sambil melambaikan tangan ke arah Shella dan teman-temannya yang sedang emosi itu. Chelsea dan Vanessa masuk ke kelas. "Woii! Mata kamu kenapa sembab lagi? Oh ya btw kenapa sih, setiap pagi mata kamu tuh sembab mulu?" Tanya Vanessa untuk membuka topik pembicaraan mereka. "Masa sih? Perasaan mata aku emang gini deh bentukannya.” Elak Chelsea. Sebenarnya Chelsea ingin memberi tahu Vanessa bahwa dia sering menangis di malam hari dan berharap jika dia menceritakan keluh kesah kehidupan nya kepada Vanessa, Vanessa akan mengerti tapi Chelsea
tau itu mustahil, jadi Chelsea terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Bukan tidak percaya kepada sahabat nya itu, Chelsea hanya tidak ingin Vanessa khawatir kepada nya dan Chelsea juga tidak ingin membebani orang lain. Tapi sepertinya Vanessa sudah tau apa yang terjadi dengan Chelsea, raut wajah Chelsea sudah tidak bisa membohongi Vanessa lagi. " Sebenernya kamu nganggap aku sahabat ga sihh? Kamu kalo ada masalah ngga pernah mau cerita ke aku, kamu ngga percaya sama aku? " Tanya Vanessa dengan sedikit meninggikan suaranya. "Aku…" Ucapan Chelsea terpotong. " Selamat Pagi anak-anak " Sapa wali kelas mereka yang membuat ucapan Chelsea terpotong. "Kamu hutang cerita sama aku" Bisik Vanessa penuh tekanan kepada Chelsea. **
Chelsea membuka matanya perlahan dan melihat kelas telah kosong, yang artinya semua murid telah pulang, dia tertidur saat jam pelajaran terakhir dan terbangun ketika semua murid telah pulang. Chelsea melihat jam di ponsel nya dan jam sudah menunjukkan pukul 16.20. Chelsea melihat kertas yang berisi kalimat pendek, " Kamu keliatan cape banget, jadi aku ngga tega buat ngebangunin kamu and jangan lupa hutang cerita nya " Isi kertas tersebut. Tulisan itu tidak lain dan tidak bukan adalah dari seorang sahabat nya yakni Vanessa. Chelsea tidak terlalu menghiraukan itu, dia hanya ingin bergegas untuk pulang. Chelsea berjalan di lorong sekolah yang nampak sangat sepi, dia berjalan dengan cepat sambil melihat ke belakang untuk berjaga karena dia agak takut berada di lorong sekolah sendirian. Burrghh! "Akhh" Chelsea meringis saat kening nya menghantam bidang dada seseorang. Ketika Chelsea mendongak, dia amat sangat kaget karena orang yang dia tabrak adalah Nathan Pradipta, pria yang ia kagumi secara Diam-diam, " Apa ini yang namanya jodoh? " Batin Chelsea. "Aku tau aku ganteng" Ucap pria
itu ketika melihat Chelsea melamun sambil melihat wajahnya. " Ehh maaf kak tadi aku ga liat kakak soalnya" Ucap Chelsea canggung. " Kok belom pulang jam segini? " Tanya Nathan dengan tatapan dingin nya. " Tadi ketiduran di kelas, kakak lagi ngapain di sini?" Ucap Chelsea. "Bukan urusan kamu" Jawab Nathan yang langsung meninggalkan Chelsea. "Dih, ganteng sih tapi sok cool mending aku cepet-cepet pulang" Gumam Chelsea sambil berlari meninggalkan sekolah yang sudah sangat sepi itu.
Sebenarnya Chelsea tidak ingin pulang, dia ingin berlama-lama diluar agar bisa mendapat ketenangan, Chelsea sangat tertekan berada di rumah, rumah yang seharusnya jadi tempat istirahat ternyaman bagi nya malah menjadi tempat ia mendapat kan semua kelelahan. **
Chelsea memencet bell berkali-kali dan sepertinya tidak ada yang membukakannya pintu, Dia memeriksa pintu apakah terkunci atau tidak dan seperti yang Chelsea duga pintu rumah tidak terkunci sama sekali, ketika Chelsea hendak membuka pintu seseorang sudah berdiri seperti sudah menunggunya untuk membuka pintu.
" Dari mana aja? " Tanya wanita paruh baya itu dengan muka datar yang tak lain dan tak bukan adalah ibunya. " Tadi ak…" Ucapan Chelsea terpotong karena ibunya menarik kasar tangan Chelsea dan membawanya masuk ke dalam rumah. " Dasar ngga berguna " Ucap Ibunya sambil melepas tangan Chelsea dengan kasar. " Mama dipanggil guru kamu lagi gara-gara kamu sering tidur di kelas, kamu cuma bisa jadi beban bagi keluarga ini, kalo tahu besar nya kamu kaya gini, waktu kamu di dalam perut kenapa ngga mama gugurin aja" Ucap Ibunya. Chelsea hanya diam. Dan akhirnya ia memutuskan untuk cepat-cepat pergi ke
kamarnya, jika berlama-lama mendengarkan ocehan Ibunya sama saja dengan mencari penyakit. Tapi baru saja Chelsea melangkahkan kakinya, rambutnya ditarik dengan keras yang membuatnya meringis kesakitan. "Dasar ngga sopan, orang tua lagi ngomong tuh didengerin jangan asal nyelonong aja "Ucap Ibunya sambil melepaskan jambakan tangannya di rambut Chelsea. "Aku cape ma, aku mau istirahat" Jawab Chelsea pelan. "Kamu mau istirahat? No!, hari ini ngga ada kata istirahat buat kamu, kamu harus dihukum biar kapok" Ujar ibunya sambil membawa Chelsea. Chelsea hanya diam dan pasrah, dia hanya bisa berdoa di dalam hati agar ibunya tidak menghukum nya terlalu berat. Mereka sudah sampai di ruangan minimalis dan lembab itu. Chelsea dibawa oleh ibunya ke kamar mandi, Chelsea hanya bisa meringis ketika tubuhnya di hempaskan oleh ibunya ke lantai kamar mandi. Chelsea duduk di bawah air shower yang mengalir, dia dipukuli oleh ibunya berkali-kali sampai memar di bagian tubuhnya dan pipinya pun memiliki bekas memar karena ditampar beberapa kali. Itu yang sering ibunya lakukan ketika Chelsea sedang terlibat masalah. Lain halnya dengan ayahnya, jika ayah Chelsea yang turun tangan, dijamin Chelsea akan sampai ke rumah sakit. Ayah Chelsea berkepribadian sangat kasar kepada orang lain, tapi bagi Chelsea ayahnya hanya kasar kepadanya saja, dia sama sekali tidak kasar kepada orang lain, contohnya Cantika. **
Chelsea sedang mengobati bekas luka yang ada ditubuh nya karena ibunya tadi, dia tidak menangis sedikitpun ketika dipukulin atau dihukum oleh ibunya, Chelsea sudah mati rasa dengan semua itu. Jam sudah menunjukkan pukul 00.30, Chelsea memutuskan untuk sholat tahajjud. Setelah melakukan sholat tahajjud, seperti biasanya Chelsea meminta doa kepada yang maha kuasa. "Ya Allah, kapan sesi
kebahagiaan hidup aku datang? Kapan mama sama papa sayang sama aku? Kapan aku bisa cantik kaya kak Cantika?. Ya Allah maafin aku karna selalu ngeluh tentang apa yang engkau berikan, maafin aku karna kurang bersyukur, tapi jauh dari lubuk hati ku ketidakadilan ini sangat melukaiku, aku jadi cape karena harus memaafkan dan melupakan omongan orang-orang jahat yang ada di sekitarku" Chelsea mengeluarkan isi kepalanya saat ini sambil menangis pelan. Tentu saja Chelsea sangat lelah karena selalu berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain. Walaupun dia sedang tidak bahagia namun dia menutupinya dengan sempurna, saat Chelsea sedang sendiri ia menangis kencang tapi tidak ada satupun yang peduli. "Ya Allah, saat ini aku cuma pengen mama sama papa lebih perhatian lagi ke aku, aku cuma pengen bahagia ya Allah" Pinta Chelsea sambil menangis sesegukan.
Chelsea mengakhiri doanya dan langsung pergi ke ranjang setelah melepaskan mukenanya. Namun Chelsea tidak bisa langsung tertidur, dia akan berbicara sendiri dikamar sebelum ia bisa tertidur. Chelsea sangat kesepian semenjak sesosok wanita paruh baya meninggalkannya untuk selamanya. Wanita yang selalu ada di saat Chelsea rapuh, selalu memeluk Chelsea ketika Chelsea menangis, menasehati Chelsea dengan lembut ketika Chelsea berbuat salah dan selalu membela Chelsea ketika ia dimarahi oleh ibu dan ayahnya. Dia adalah Tamara, nenek Chelsea. **
Hari ini adalah hari weekend, dan setiap weekend Chelsea selalu menyempatkan diri untuk pergi ke makam neneknya. Ketika Chelsea sudah sampai di pemakaman, ia berjalan menelusuri sekita pemakaman dan mencari batu nisan neneknya. Chelsea duduk di samping batu nisan yang bertuliskan 'Tamara Bin
Habib'. "Hai Nek, kangen Chelsea ngga? Udah setahun aja nenek pergi". Ucap Chelsea sambil menabur kan bunga yang ia bawa. "Nenek ngga sakit lagi kan? ". Tanya Chelsea yang tentu saja tidak ada yang menjawab pertanyaannya. "Nenek tau ngga sih?, Chelsea sekarang kesepian banget, Chelsea kangen banget sama nenek, Chelsea kangen masakan nenek, Chelsea kangen pelukan nenek". Ujar Chelsea sambil menahan tangisan nya. "Dunia jahat banget sama Chelsea, Chelsea ngga bahagia Nek". Ucap Chelsea yang sudah tidak bisa lagi menahan benteng pertahanan air matanya. " Chelsea pengen cepet nyusul nenek. Semenjak nenek ngga papa sama mama jadi sering marahin dan mukulin Chelsea, dan semenjak nenek ngga ada Chelsea jadi ngga ada temen cerita sampai-sampai Chelsea sering ngomong sendiri di kamar" Ucap Chelsea terisak. "Masalah yang Chelsea dapet jadi banyak banget selama nenek pergi, Chelsea cape banget nek, tapi nenek pernah bilang ke Chelsea kalo Allah ngga akan ngasih masalah yang berat kalo hambanya ngga mampu, jadi kenapa Allah ngasih Chelsea masalah yang banyak kaya gini, karena Chelsea mampu, ya kan nek?" Ucap Chelsea sambil tersenyum menyematkan diri nya sendiri. "Nih tisu, buat ngelap air mata kamu.” Ucap seseorang pria yang entah dari mana asal sambil melempar pelan tisu ke arah Chelsea. "Pasti cape ya jadi kamu? Orang yang ketawanya paling kenceng di sekolah dan paling ceria, ternyata menyimpan banyak luka dan selalu ditutupi tanpa seorang pun yang tau". Ucap pria itu lagi. Chelsea merasa suara pria itu sangatlah familiar, Belum sempat Chelsea mendongak kan kepalanya untuk melihat siapa pria yang berbicara dengan nya itu, pria itu sudah pergi dan Chelsea hanya melihat punggung lebar dari pria tersebut. Chelsea tidak berniat mengejarnya, ia buru-buru meninggalkan pemakaman dan berpamitan dengan
neneknya karena cuaca sudah mendung dan sebentar lagi akan turun hujan. Chelsea memilih untuk pergi ke rumah sahabat nya, yakni Vanessa. Sesampainya di rumah Vanessa, Chelsea mengetuk pintu beberapa kali sampai seseorang membuka pintu. Chelsea sedikit tersentak karena bukan Vanessa yang ada di depannya, melainkan sosok pria berjakun dan sangat tampan. Chelsea diam membeku tanpa berbicara sedikit pun. "Mau masuk ngga sih? " Ujar pria itu dengan muka datarnya. "I-iya kak, btw kenapa kak Nathan bisa ada di rumah Vanessa? " Tanya Chelsea. "Kepo". Singkat, padat, dan membuat Chelsea kesal dengan jawaban tersebut. " Jutek banget sih." Gumam Chelsea sambil menerobos masuk.
"Oh jadi kamu yang ngetok pintu". Ucap Vanessa yang sedang menonton TV diruang tamu. "Iya, eh itu si kutub kenapa bisa ada disini ". Tanya Chelsea dengan nada berbisik. "Dia tadi habis dari pemakaman, terus kayanya dia mau pulang tapi cuacanya mendung banget jadi dia mampir bentar ke sini" Jelas Vanessa.
"Tapi kenapa harus rumah kamu". Tanya Chelsea lagi. "Kamu ngga lupa kan kalo aku sama Nathan sepupuan? " Kata Vanessa. "Ohh iya, aku lupa kalo kalian sepupuan, pantes aja kak Nathan ke sini". Jawab Chelsea. "Ngomongin siapa? Tanya seorang pria dengan dingin yakni Nathan. "Kamu". Jawab Chelsea singkat tanpa menoleh kearah Nathan. Nathan duduk di sofa yang berbeda dari Vanessa dan Chelsea, kemudian Nathan mengambil benda pipih yang ada di atas meja dan memainkannya. Sementara Chelsea dan Vanessa, mereka mengobrol sambil menonton TV dan tertawa ketika ada adegan lucu di Siaran TV yang mereka tonton.
Sambil memainkan handphone-nya , sesekali Nathan melihat Chelsea yang
sedang tertawa gembira. Nathan baru saja mendengar curhatan Chelsea kepada almarhumah neneknya di pemakaman tadi. Dan dari yang Nathan dengar, Chelsea sangatlah rapuh, dia bahkan tidak bahagia, namun Chelsea menutupi itu semua tanpa seorang pun yang tau. Jadi yang memberi tisu ke Chelsea di pemakaman itu adalah Nathan, Nathan hampir mendengar semua yang dikatakan Chelsea ketika ia di makam neneknya. Nathan tidak menyangka, Chelsea yang tampak sangat periang dan ceria memiliki banyak luka dan tidak pernah cerita ke siapapun. "Terus aja ketawa sampai kamu lupa kalo kamu lagi terluka" Gumam Nathan pelan. "Hah? Kamu ngomong apa Nat". Tanya Vanessa yang sedikit mendengar ucapan Nathan. " Kepo". Ujar Nathan dengan muka datar. "Dasar gila". Ucap Vanessa sinis. "Aku mau pulang, kamu ngga mau aku anter sekalian?" Tanya Nathan kepada Chelsea. "Hah? Ngga dulu deh" Jawab Chelsea sedikit kaget karena ini pertama kalinya Nathan mengajak nya. "Oh". Jawaban singkat dari Nathan. Ketika melihat Nathan sudah menjauh dari rumahnya, Vanessa langsung menyambar Chelsea dengan pertanyaan dan membuat Chelsea sedikit kaget. " Kok kamu ngga mau sih pulang sama dia ". Tanya Vanessa Kesal."Aku masih belum mau pulang." Jawab Chelsea tanpa menoleh ke arah Vanessa. Vanessa hanya ber-oh dan mereka berdua kembali melanjutkan menonton TV. "Oh iya aku hampir lupa, kamu kan ada hutang cerita sama aku". Ucap Vanessa tiba-tiba. "H-hah". Chelsea mulai ingat bahwa dia harus bercerita ke Vanessa tentang apa yang ia alami selama ini. "Ayoo cepetan cerita" Paksa Vanessa. "Ngga apa-apa kalo kamu ngga cerita semuanya, ceritain apa adanya dulu". Ucap Vanessa meyakinkan sahabat nya. "Ngga semuanya harus kamu pendam Chel, kamu harus ceritain juga sedikit demi sedikit. Terlalu banyak memendam itu ngga baik loh.
Ceritain aja ke aku, ya walau pun aku ngga bisa ngasih saran but i can hug you" Ujar Vanessa kepada Chelsea yang sepertinya tidak yakin akan bercerita tentang kehidupan nya. "Aku ngga tau harus mulai dari mana Ness, hidup aku udah berantakan banget, haha" Ucap Chelsea dilanjutin dengan tawa kecut. "Ga papa cerita aja yang sering kamu alami akhir-akhir ini." Ucap Vanessa. Chelsea mulai menceritakan tentang apa yang sebenarnya ia alami selama ini, dan Chelsea juga menceritakan bagaimana irinya dia dengan sang kakak yang selalu disayangi dan dibanggakan oleh orang tuanya. Bukan hanya itu Chelsea juga bercerita bahwa dia sering dipukuli hanya karena hal sepele yang ia lakukan. Dengan mata yang berkaca-kaca Chelsea menceritakan sedikit demi sedikit tentang kehidupan nya kepada Vanessa. Vanessa merasa bersalah karena ketika sahabat sedang dalam masalah dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sungguh kasihan kepada Chelsea, bagaimana tidak, ketika mereka sedang bersama Chelsea sama sekali tidak menunjukkan raut wajah sedihnya kepada teman-temannya. Chelsea sangat pintar menyembunyikan kerapuhan nya. "Kenapa kamu baru cerita sekarang kalo kamu itu lagi ngga baik-baik aja? Pasti sakit banget ya dipendam sendiri? " Ucap Vanessa sambil memeluk Chelsea yang sedang menangis sesegukan, dan Chelsea hanya mengangguk menjawab pertanyaan Vanessa. " Tapi kamu harus banyakin bersyukur ya Chel." Ujar Vanessa kepada Chelsea. "Udah aku duga kalo aku cerita ini ke kalian, kalian pasti nyuruh aku buat bersyukur." Ucap Chelsea sambil melepaskan pelukan nya dari Vanessa dan tersenyum kecut. "Dengar ya Ness, aku udah cape sama masalah pendidikan, keluarga, pertemanan, dan percintaan. Semuanya aku lakuin buat jadi yang terbaik, tapi akhirnya selalu gagal. Aku pengen orang lain liat seberusaha apa aku, secape apa aku, se-insecure apa aku
karena omongan mereka, aku pengen orang lain liat aku yang ngga ada semangat hidup, aku yang hancur, pura-pura baik-baik aja dan selalu ngasih semangat ke orang lain , but look at me, aku hancur Ness. Kamu tau rasanya selalu ngertiin orang lain, tapi ngga ada satupun orang yang bisa ngertiin diri aku sendiri? Di saat aku pengen ngeluh kaya orang lain lakuin, tapi orang-orang malah bilang aku kurang bersyukur. Aku ngga mungkin nerima hidup aku kaya gini kalo aku ngga bersyukur, I'm just tired. i'm look so fine, but trust me my mental health isn't." Ucap Chelsea panjang lebar dengan hatinya yang sangat berantakan. Tanpa basa basi Vanessa langsung mendekap Chelsea dengan sangat erat. Vanessa tau, saat ini Chelsea sangat membutuhkan pelukan seseorang. "Kalo aja mengakhiri hidup itu ngga dosa, itu yang bakal aku lakuin dari kemarin-kemarin. " Ucap Chelsea lirih. "Jangan pernah mikir buat mengakhiri hidup Chel. Dunia masih butuh orang-orang yang kaya kamu". Ucap Vanessa menatap mata Chelsea dalam. " Cih, dunia butuh aku? Ngga Ness, DUNIA NGGA BUTUH AKU!" Ucap Chelsea dengan nada tinggi. Tiba-tiba di sela pembicaraan mereka berdua, ada pria yang menerobos masuk ke rumah Vanessa tanpa memberi salam dan langsung menghampiri Chelsea dan memeluknya dengan erat. Pria itu adalah Nathan Pradipta. Ya, Nathan sebenarnya tidak pulang, dia sengaja mendengar percakapan antara dua gadis tersebut. "Aku udah tau semuanya, aku tadi dengar percakapan kamu di makam nenek kamu, dan sebenarnya aku ngga pulang tapi aku sembunyi dan dengerin pembicaraan kalian" Ucap Nathan menjelaskan semuanya. "Aku juga udah tau kalo kamu sebenarnya suka sama aku tapi kamu merasa ngga pantes buat aku, terus kamu lebih memilih mendam perasaan kamu" Ujar Nathan lagi. Chelsea hanya terdiam ketika Nathan mengatakan itu sambil memeluknya. Dia
merasa ini semua hanyalah mimpi. "Mulai sekarang kamu ngga perlu merasa kesepian lagi, dan kalo ada apa-apa kamu harus cerita ke kita berdua" Ucap Vanessa yang sangat senang melihat Chelsea berada di pelukan Nathan. "Pesan aku cuman satu. Jangan terlalu meratapi kesedihan kamu, kamu harus ingat bahwa ini hanya kehidupan dunia." Ujar Vanessa yang membuat Chelsea tersadar bahwa ini hanya kehidupan dunia. ** (Olive)
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- “Langkah Menuju Masa Depan: Saatnya Siswa SMPN 3 Subah Bersinar di TKA 2026!”
- 📢 SMP Negeri 3 Subah Siap Mensukseskan Tes Kemampuan Akademik (TKA)
- Bahagia Ibu Meninggal
- Khadijah Wanita Istimewa
- Tetap Berprestasi di Masa Pandemi
Kembali ke Atas


